
Aneh rasanya menulis review untuk video game yang sudah keluar sejak 7 tahun lalu, apalagi ketika game ini sudah tidak pernah lagi di update dengan konten-konten baru. Gue aja gak yakin masih bisa nemu pemain di multiplayer modenya.
Biarpun begitu, izinkanlah gue untuk sedikit bicara soal Tomb Raider keluaran tahun 2013 ini, itung-itung sedikit bernostalgia. Karena baru saja di weekend kemarin, gue berhasil menyelesaikan game ini kembali sejak gue menamatkannya di laptop tua 7 tahun silam.
Square Enix dan Crystal Dynamics merilis Tomb Raider (2013) sebagai reboot dari sebuah seri yang sudah lama berjalan sejak pertama kali dikeluarkannya di era PS1 sekitar tahun 1996. Dalam reboot ini Tomb Raider menceritakan kisah Lara Croft, seorang arkeolog muda yang naif namun berintuisi tajam, dalam menjalankan ekspedisi bersama tim dan kru kapal Endurance untuk menggali sejarah kerajaan Yamatai di sekitar Laut China Timur.
Sedikit gambaran, petualangan mulai ketika Lara Croft dan timnya terdampar di pulau kerajaan Yamatai akibat badai besar yang secara misterius mengelilingi lautan di sekitar pulau itu. Terpisah dari tim dan sahabatnya, Sam, Lara Croft harus mencari jalan agar bisa kembali berkumpul dan keluar dari pulau bersama-sama.
Perjalanan Lara Croft untuk kembali pulang penuh dengan tantangan dan rintangan. Ia harus berhadapan dengan sekelompok sekte pemuja Ratu Himiko yang menculik Sam, sahabat Lara Croft.
Selain menghadapi manusia, Lara Croft juga harus berhadapan dengan alam, menyusuri geografi pulau yang dipenuhi oleh bukit dan tebing curam, hembusan angin yang kencang akibat badai, serta menemukan solusi dari berbagai instrumen yang ada di dalam “tomb” atau situs makam dari kerajaan Yamatai yang tersebar di berbagai titik di pulau tersebut.
Oke, cukup sedikit gambarannya. So move on to the point, apa yang membuat Tomb Raider tetap bagus, dan bahkan lebih baik ketika dimainkan sekarang ketimbang saat awal rilisnya?

The Reason
Alasannya berhubungan dengan betapa jenuhnya gue dengan banyaknya video game beberapa tahun ini yang mengedepankan fitur open world-nya, tapi tak ada substansi di dalamnya.
Tomb Raider menggunakan pendekatan semi-open world ketimbang sepenuhnya menjadi model video game dengan dunia yang terbuka. Mungkin hal ini tampak tak relevan jika dibahas saat awal rilisnya. Namun dalam konteks kini, Tomb Raider (2013) menjadi lebih segar dimainkan kembali di tengah kejenuhan akan model open world.
Dengan pendekatan semi-open world ini, petualangan Lara Croft menjadi terasa lebih terisolasi di pulau kerajaan Yamatai dan hanya di sekitar area-area yang memang berada dalam jalur linear utama cerita sehingga tidak terlalu ter-distract oleh hal-hal sampingan atau side objectives seperti misalnya, mengumpulkan collectibles.
Tomb Raider memang memiliki collectibles yang tersebar di beberapa tempat. Biarpun begitu, keberadaannya tidak menjadi distraksi terhadap laju cerita. Gue tidak merasa dipaksa untuk mengumpulkan semuanya agar bisa melanjutkan progress permainan.
Gue senang ketika diberi kebebasan oleh developer untuk mengumpulkan collectibles atau tidak. Ketika gue memutuskan untuk mengumpulkannya, dan diberi reward yang menarik, tentu gue akan lebih senang lagi.
Tambahan XP dan achievement dirasa kurang worth it bagi gue, setiap collectibles idealnya memberikan tambahan lore di setiap pick up-nya atau setidaknya ketika kita berhasil mengumpulkan satu set dari barang koleksi itu.
Hampir setiap item-item koleksi dalam Tomb Raider melengkapi cerita dari sudut pandang masing masing karakter selama mereka terdampar di pulau tersebut, serta menambahkan pengetahuan tentang kerajaan Yamatai di masa lampau yang bisa di dapat dari jurnal dan artifak.
Dengan begitu, gue tidak terpaksa untuk mengumpulkannya demi sekedar mempercepat progress permainan, tetapi juga karena rasa penasaran akan kisah-kisah yang bisa semakin lengkap setelah mengumpulkan semua collectibles.
Alasan berikutnya ada pada bagaimana Crystal Dynamics me-reboot Lara Croft dengan cara yang benar-benar luar biasa berkesan. Bagi gue, Tomb Raider (2013) merupakan salah satu reboot done right, dan yang terbaik yang pernah gue ikuti.
Saking done right-nya, seharusnay adaptasi film Tomb Raider (2018) yang seharusnya didaptasi dari game ini benar-benar mengacu pada source material. Namun entah kenapa malah mengubah sebagian besar aspek dari narasi dan karakter Lara Croft di film itu, gue rasa mereka benar-benar meleset jauh dari peluang yang brilian.
Seperti yang gue bilang di awal, Lara Croft memulai petualangannya sebagai arkeolong yang masih “hijau”, naif dan antusias, namun ragu dalam mengambil keputusan karena banyak orang di sekitarnya yang ia rasa lebih berpengalaman atau memiliki kekuatan dalam tim ekspedisi.
Walaupun Lara Croft sudah beberapa kali melakukan petualangan sebelum ekspedisi kerajaan Yamatai ini, Lara masih belum berkembang dalam segi karakter. Karena sosok “mentor”-nya, Roth, yang terus membimbing, mengawasi, dan menemani Lara Croft layaknya anak sendiri.
Perjalanan dan perkembangan karakter yang baik pastinya memberikan story arc dimana sosok mentor tersebut “dihapus” dari kehidupan karakter. Sangat basic, namun Square Enix dan Crystal Dynamics menerapkannya secara efektif dalam Tomb Raider ini.
Ketika Lara Croft kehilangan Roth, Lara semakin bulat dalam menentukan apa yang harus dia lakukan demi bisa selamat bersama teman-teman satu timnya yang tersisa.
Selain itu, melihat proses bagaimana Lara belajar dari pengalaman serta beradaptasi dengan elemen alam di pulau Yamatai, membuat character development Lara Croft dalam Tomb Raider (2013) semakin bagus, tidak terpaksa, dan Lara Croft sendiri akhirnya patut menjadi pilar female protagonist yang menarik!
Minor Issues dan Nitpicking
Sekarang setelah gue pikir kembali, hanya dua hal itu yang menjadi poin-poin utama kenapa game Tomb Raider (2013) ini masih sangat bagus bahkan setelah 7 tahun sejak dirilisnya.
Jika seandainya gue menulis review ini di saat setelah awal rilisnya, mungkin gue bisa membuat daftar tersendiri untuk masalah-masalah yang gue temukan dalam permainan. Namun semua itu tak relevan saat ini, karena masalah-masalah tersebut cukup minor.
Seperti penggunaan quick-time events yang menurut gue sebagian orang tak masalah denganmya, termasuk gue. Selama penggunaannya tidak terlalu mendominasi gameplay. Tomb Raider (2013) hampir saja mampu membagi porsi aksi dari pemain dengan QTE-nya secara seimbang, misalnya, saat momen-momen sinematik seperti ketika Lara Croft terseret arus sungai yang deras setelah jatuh dari bangkai pesawat di atas tebing.
Sayangnya, saat bertarung melawan boss atau musuh yang lebih kuat, Tomb Raider justru menggunakan QTE sebagai finisher untuk mengalahkannya. Padahal menurut gue, pertarungan akan lebih seru jika pemain bisa menghabisi musuh dengan mengombinasikan serangannya sendiri.
Memang, hal ini untuk memberikan kesan sinematik tadi, terutama saat melawan musuh yang tangguh. Tetapi alternatifnya, bisa juga memanfaatkan environmental hazard di area pertarungan tersebut untuk mengalahkan musuh.
Dalam Tomb Raider, satu-satunya bahaya dari lingkungan hanya jatuh dan ledakan dari drum atau kendi yang berisi bahan eksplosif. Sedangkan jika dilihat lagi, desain lingkungan pada Tomb Raider yang serba DIY dengan peralatan-peralatan yang serba terbuat dari material ala kadarnya. Lebih kreatif dan seru jika banyak enviromental hazard yang bisa dimanfaatkan untuk membasmi musuh.
But again, itu minor dan tidak mengurangi faktor Fun dari Tomb Raider. Isu lain seperti UI dan sound efek menu, sedikit clunkiness saat melompat dari satu tepi ke lainnya, bagi gue sangat minor dan subjektif sehingga dengan sedikit adaptasi hal tersebut bisa diatasi.

Oke, semoga gue cukup jelas dalam hal ini. Mengapa Tomb Raider (2013) masih merupakan salah satu game terbaik, bahkan 7 tahun semenjak dirilisnya karena model semi-open world dan penyajian ulang kisah Lara Croft yang brilian. Sekarang waktunya gue men-tackle kedua sekuelnya yang notabene tidak kalah bagusnya dan semoga ada sedikit peningkatan dan perbaikan dari isu-isu minor yang gue alami pada judul pertama dari seri reboot ini.
Bagaimana pengalaman kalian dengan Tomb Raider (2013)? Kalau kalian kebetulan mampir di postingan ini, kasih komentar di bawah tentang gimana serunya (atau ngga) momen kalian saat bertualang bersama Lara hingga ia menjadi seorang seorang Croft sejati!

Tinggalkan Balasan