[Review] Solo Seminggu di Ragnarok M Eternal Love

Ragnarok M Banner

Pernah ada masanya dimana game MMORPG berjaya di Tanah Air. Salah satu judul yang terkenal kala itu adalah Ragnarok Online, tepatnya pada tahun 2003. Satu dekade kemudian, muncul lah berbagai ‘revive’an Ragnarok Online yang bisa dibilang… ngga menarik minat gue buat nyoba. Kini, Gravity Interactive Inc. dan X.D. Global mencoba me-revive Ragnarok Online dengan judul ‘Ragnarok M: Eternal Love’ untuk platform mobile. Bisa dibilang, kali ini gue tertarik dengan game ini, makanya gue coba.


Ragnarok M Icon

Title: Ragnarok M Eternal Love
Platform: Android & iOS
Genre: MMORPG
Price: Free dengan in-app purchase
Size: 1.3 GB Download (Extract to ±3.2 GB)

Setelah gue coba, well… menarik. First impression yang diberikan cukup kuat bagi gue, dan memang terasa feel Ragnarok Online versi tempo doeloe-nya. Tapi sayangnya, cuma sebentar aja feel nostalgia itu nendang. Lama-lama makin berkurang feelnya.

‘Here, let me elaborate’

Saat awal download, gue dikejutkan dengan kebutuhan ruang penyimpanannya yang besar, cukup besar sampai gue harus uninstall beberapa apps yang lama ngga dipakai dan satu dua game yang ngga pernah dimainin lagi.

Setelah menunggu proses extraction, seperti biasa gue diminta untuk login menggunakan beberapa pilihan akun. Proses login seperti biasa berjalan lancar, tapi yang mencuri perhatian gue adalah tampilan main menunya. Ilustrasinya modern, tapi dapet kesan nostalgic-nya, ditambah lagi dengan BGM-nya yang bikin relax .

Character Creation Menu Ragnarok M Eternal Love
Mirip Maki dari Love Live ngga sih? XD

Saat masuk ke menu character creation, disini gue mulai panik karena harus memilih pilihan hidup, haha. Ada 6 pilihan class yaitu Hunter, Priest, Blacksmith, Wizard, Knight, dan Assassin. Setelah bolak-balik melihat semua stat masing-masing class, gue memutuskan untuk menjadi Knight. Pilihan yang cukup standar.

Setelah memilih salah satu dari 4 pilihan gaya dan warna rambut lalu mengisi nama, karakter gue langsung dilempar ke South Gate Prontera, sebuah wilayah hutan di sebelah selatan kota Prontera. Setelah ini cukup basic dan umum lah ya, gue disuruh menjalani misi-misi utama dan dipandu dalam tutorial untuk combat, equip skill, distribusi stat karakter, dsb dsb you know the drill.

Tutorial Dialog Ragnarok M Eternal Love
Di dialog tutorial ada illustrasi NPC-nya

Tapi, yang pertama kali komentari saat pertama masuk ke area bermain adalah betapa unyunya grafik 3D game Ragnarok M Eternal Love ini. Selain unyu, teksturnya cukup tajam walaupun bentuk 3D-nya ngga detail-detail amat (karena mungkin emang ingin menunjukkan style anime klasiknya, mungkin). Sekali lagi, Ragnarok M Eternal Love bisa memunculkan feel nostalgic-nya, walaupun terdapat peningkatan grafik yang signifikan dibanding judul-judul sebelumya.

Prontera Castle Ragnarok M Eternal Love
Untuk grafik 3D Ragnagrok M Eternal Love ini memang patut diacungi jempol.

Sayangnya nih, opsi yang ada di menu setting tidak begitu fleksibel. Pilihan yang ditawarkan hanya setting resolusi (yang ngga terasa juga bedanya pas gue ganti), jumlah karakter pemain yang ditampilkan, opsi screen saving, dan outline karakter. Opsi-opsi tersebut bisa dibilang ngga berpengaruh banget, baik di perubahan performa atau grafik yang muncul. Terkadang seperti ada bug di opsi yang mencegah gue buat nge-apply settingan yang udah diotak-atik. Hal ini cukup problematic buat gue karena ya.. ini game berat cuy, udah gitu bikin hape panas pula.

Awalnya terkadang karakter pemain lain ngga muncul, kayak lagi loading terus. Padahal opsi yang dipilih untuk jumlah karakter yang muncul sudah high. Entah bug, atau mungkin karna server load yang tinggi saat masa-masa baru launch. Tapi ,kalau sekarang sih udah jarang muncul masalah ini.

Lanjut ke User Interface, untuk Ragnarok M: Eternal Love ini bisa gue acungi jempol, tapi cuma setengah ngacung. Why? UI di game ini memang bersih dan rapih. Sebagian elemen ngga mengganggu flow permainan gue karena memang ngga tumpang tindih. Kualitas icon-icon tajam dan jelas. Gue bisa liat icon itu bentuknya apa, ngga burem dan memang ilustrasi yang digambar jelas.

Overall UI Ragnarok M Eternal Love
UI yang clean, tapi agak kurang pas aja buat mobile game.

Jendela chatnya pun ngga makan tempat, posisinya compact alias padat. Pesan pengumuman, yang biasa muncul kalau lagi ada event atau maintenance, ngga mengganggu tampilan karakter kalian yang lagi hunting karena munculnya di bagian bawah layar.

Walaupun dah rapih kayak pasukan baris berbaris, beberapa elemen UI… bisa dibilang terlalu besar dan aneh penempatannya menurut gue. Untuk sebuah game dirilis di smartphone, layout UI yang disajikan seolah-olah untuk game PC.

Posisi sebagian besar elemen UI berat di kanan. Mungkin untuk penempatan kontrol analog di sebelah kirinya. Tapi nih yang lucunya, jendela chat ada di pojok kiri bawah sehingga kalau gue pengen make analog buat gerak, posisi jempol gue agak nengah keatas.. awkward banget jadinya. Layout skill dan item shortcut disajikan horizontal di pojok kanan bawah dengan frame icon persegi yang besar-besar pula. Untungnya tidak butuh berhari-hari untuk terbiasa dengan UI-nya.

Hanya saja ya.. itu tadi, gue rasa layout UI tersebut lebih cocok untuk dimainkan di PC. Apalagi, kontrol yang ada untuk menggerakan karakter ngga cuma dengan analog, tapi bisa juga melalui tap di lokasi tujuan di layar utama atau melalui minimap. Alhasil, gue coba main pake Nox Emulator dan benar terasa luwesnya navigasi UI Ragnarok M Eternal Love menggunakan keyboard dan mouse.


Story & Gameplay

Soal cerita, jujur gue ngga bisa bicara banyak. Entah kenapa, walau sudah seminggu lebih bermain Ragnarok M Eternal Love, gue sama sekali ngga mengikuti secara mendalam tentang apa yang terjadi di dalam game ini. So, gue mohon maaf banget.

Faktor utama yang bikin gue ngga tertarik mengikuti ceritanya yaitu, karena cara penyajiannya yang biasa aja dan berbeda dari ekspektasi gue. Dengan ukuran yang besar hingga 3.2 GB, gue menganggap setidaknya misi utama yang menceritakan kisah utamanya ada illustrasi karakter dan dialognya fully voiced. Realitanya, hanya teks dialog saja.

Story Dalam Ragnarok M Eternal Love
Sayangnya, dalam penyampaian quest story tidak ada ilustrasi karakter NPC-nya.

But anyway. Tidak jauh beda dari game-game Ragnarok sebelumnya, kisah Ragnarok M Eternal Love mengambil inspirasi dari mitologi Skandinavia. Jika kalian adalah veteran Ragnarok Online tentunya sudah tau dengan kisah-kisah yang ada. Bagi pemain baru, kalian bisa mempelajari lore dalam permainan melalui quest utama dan beberapa NPC yang ada.

Sangat disayangkan, Tidak ada yang baru dan berbeda dari sebagian besar gameplay Ragnarok M: Eternal Love. Gameplay yang disajikan… sama seperti MMORPG pada umumnya. Pemain akan diarahkan untuk menjalankan quest agar mendapatkan exp point untuk naik level dan membuka job, skill, dan map baru seiring level tersebut naik. Selain itu, kalian juga bisa farming material untuk crafting equipment dan senjata. Ada juga Rift dan Training Ground yang bisa diselesaikan bersama party untuk mendapatkan bonus reward dan exp yang  besar (sayangnya belum sempat gue coba karena solo play terus). Banyak sekali konten yang disediakan oleh Ragnarok M Eternal Love ini.

Build status karakter dan fitur rekomendasinya
Rekomendasi build, fitur yang gue suka untuk levelling karakter. Terutama cocok bagi pemain yang baru pertama kali bermain game RPG.

Selain itu, ada cash shop yang menjual beberapa item spesial dan tiket gacha untuk senjata, kostum, dan aksesoris yang dijual dengan harga yang, ya… cukup umum pada sebagian besar game online (masih tetap mahal dan ngga worth it bagi gue). Ada juga semacam premium membership yang bisa kalian beli seharga ±120.000 rupiah.

Fitur yang paling gue antisipasi dari sebelum Ragnarok M Eternal Love ini tersedia di Google Play Store yaitu: Camera Mode. Fitur ini ngga bisa gue akses dari awal bermain langsung. Gue harus menjalankan beberapa misi untuk membuka fitur kamera.

Fitur Camera Mode di Ragnarok M Eternal Love
Mengambil gambar lebih dekat dengan karakter. Karakter kita juga bisa berpose tergantung dari emote yang kita pilih.

“Kan dah ada fitur screenshot yang built-in di hape gue, ngapain lu hype sama fitur camera coba”. Eits kalem bray, dengan menggunakan kamera in-game ini gue bisa menangkap momen dari dekat dengan angle yang berbeda-beda. Secara game ini kan mode tampilannya isometrik.

Fitur kamera ini ngga cuma gimmick doang, tapi juga sebagai fitur gameplay tambahan dimana foto-foto yang gue jepret bisa ngasih gue poin buat naikin ‘Adventurer level’ dan membuka fitur-fitur game baru seperti mode kamera yang lebih advanced atau skill yang bikin proses bermain jadi lebih mudah.

Ngomong-ngomong soal bikin main jadi lebih mudah, ngga ada yang menandingi dalam hal ini selain fitur ‘Auto play’. Walaupun fitur tersebut membuat pengalaman bermain jadi lebih mulus, gue paling benci fitur auto play dalam sebagian besar game-game mobile.

Tapi untuk Ragnarok M Eternal Love ini, fitur auto play tidak begitu ‘OP’ bagi gue. Cukup standar dan memang berguna ketika diperlukan saja. Jadi maksudnya, gue masih perlu ‘bermain’ untuk memainkan game ini (haha masih gajelas).

Jadi, gue masih harus menggerakan karakter gue secara aktif melalui 3 opsi kontrol yang disebut sebelumnya, gue msh harus memilih target yang mau gue serang, gue masih harus memilih skill apa saja yang akan dipake saat mode auto play dinyalakan, gue masih harus memilih NPC yang ngasih misi. Intinya, interaksi dari gue masih diperlukan dalam bermain dan fitur auto play akan membantu saat gue perlu istirahat, farming, atau grinding. Jadi ngga kaya main game, tapi sebenarnya nonton, haha.

Supaya fair juga, ada batas harian yang diterapkan dalam game. Setiap hari pemain diberi jatah 300 menit (5 jam) untuk hunting monster di map. Jatah tersebut bisa diakumulasi hingga 900 menit apabila masih terdapat sisa di hari sebelumnya.

Lewat dari jatah tersebut, reward dan exp yang diberikan dari berburu monster akan dipotong. Bagi sebagian orang yang hardcore, hal ini tentu menyebalkan. Ditambah lagi, waktu 5 jam tersebut jadi terasa sedikit karena gerak karakter dan animasi bertarung terasa lambat.


Conclusion

Perlu diingat kalau review ini dibuat setelah gue bermain solo dalam kurun waktu seminggu. Gue masih tetap bermain Ragnarok M Eternal Love walaupun tidak intense. Kalau ada update atau konten baru yang menarik di dalam game, pasti gue update lagi artikel ini.

For me, Ragnarok M Eternal Love berhasil mengingatkan kembali kenangan indah (cie) bermain MMORPG klasik saat masa-masa teens gue dulu. Sayangnya, tidak ada inovasi atau improvement dari gameplay, selain dari peningkatan grafik menjadi 3D. Selain itu, game yang didesain untuk smartphone ini malah terasa lebih nikmat dan luwes ketika dimainkan di PC dengan emulator. Bukan cuma masalah performa di smartphone, tapi karna faktor UI dan kontrol yang ada di dalamnya. All in all, Ragnarok M Eternal Love jadi hanya sebatas fuel yang menggerakan mesin nostalgia gue.


Bagaimana dengan kalian? Apakan sudah mencoba download dan bermain Ragnarok M Eternal Love? Gimana, seru apa sekedar nostalgia aja? Cerita di komen ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *